A Touching Message in Commuter Line

yuntango_commuter_line

I have written this article in Jakarta by Train website 2 years ago.

As we have known, commuter line’s rolling stocks are mostly composed by used Japanese trains. The latest rolling stocks were come from Japanese Railway (JR), specifically which operated in Nambu Line. The new armada has yellow stripes and consists with 12 rolling stocks.

Besides the better condition from the old one, the new armada of commuter line has an interesting thing on it. Something that can open your eyes. If you are lucky to get on this train, you will see a lot of pictures from Japanese Children which decorated wall of the train. Every picture is randomly colored and consisted with a touching message from Japanese children. Some texts are in Japanese and the headline is in Bahasa.

The texts mean:

From Japanese Children for you.

“Even in oversea, you have to keep the spirit.”

A touching message is actually for the train. And it’s really touching. By reading this message, we get the fact that they really love their train. They are taught to love what they have since they were kids. Absolutely, they want us to love the train like they do.

Now, let’s love what we have this day. Do not do vandalism anymore.

If the Japanese children can, how come we can’t?

 

Manusia yang Dinamis

Manusia itu dinamis. Berubah setiap saat, dan itu pasti.

Manusia yang lima tahun berikrar tidak menyukai anak kecil, suatu ketika bisa sangat menikmati waktu bersama anak kecil yang baru saja dikenalnya belum ada satu hari. Padahal, ia hanya terlibat dalam aktivitas sederhana seperti menggambar, melipatkan burung-burung kertas, dan sedikit berdongeng. Namun, ia merasa seperti menemukan sumber kebahagian baru dari sana.

“It’s kinda her small achievement.”

Manusia itu dinamis. Berubah setiap saat, dan itu pasti.

Dan ia juga sadar bahwa setiap dinamika kehidupan, pasti tak luput dari peran lingkungan. Berada di sekitar penjual minyak wangi bisa membuat kau terpapar harumnya. Sebaliknya, berada di sekitar penjual ikan bisa membuat kau terpapar bau amisnya. Untuk itu, pandai-pandailah memilih lingkunganmu.

 

Sebuah Monolog Tengah Malam

Sebuah monolog tengah malam, judul yang terkesan klasik, ya? Padahal, ini hanya sebuah tulisan uneg-uneg anak perempuan yang lagi galau sama passion dan kerjaannya.

Monolog tengah malam ini tercipta akibat rasa lelah gue terhadap dunia permedia-sosialan. Saking lelahnya, dari lubuk hati gue yang paling dalam timbul keinginan untuk hiatus dari sana, dengan cara nggak main instagram dan facebookanya. Namun, gue tetep kepingin main Twitter. Kenapa cuma twitter? Karena Twitter adalah pelipur laraku.

Kemudian gue mikir, gimana bisa hiatus dari dunia permedia-sosialan kalau pekerjaan gue aja masih ada di sana? Pekerjaan full time maupun freelance.

Terus gue pusing. Gue balik lagi ke beberapa waktu lalu ketika gue berada di fase bosan sama pekerjaan gue. Demi menjaga semangat, pada saat itu gue memutuskan untuk menyemangati diri gue sendiri dengan memahat sebuah kutipan, baik di meja kerja gue di kantor maupun di dalam kepala gue. Begini bunyinya.

“If you’re not able to do what you love. Then let’s start to love what you do.”

Oke. Sekejap case closed.

Tapi selang beberapa saat setelah seperempat jiwa gue masih mengiyakan kutipan tersebut, sisa jiwa gue yang lain malah sebaliknya. Gue merasa mindset gue yang sekarang udah beda. Fase yang gue hadapin sekarang seperti sudah masuk fase denial sama kutipan itu. Alih-alih mengiyakan dan mulai kembali mencintai pekerjaan gue sekarang, sebagian jiwa gue malah bertanya-tanya.

“Terus sampai kapan gue harus rela hanya bisa mencintai apa yang gue lakukan sekarang?”

“Terus kapan dong gue bisa melakukan hal yang gue suka?”

“Masa iya gue mau gini-gini aja?”

Sebelum melanjutkan ke fase selanjutnya. Mari melihat ke belakang sejenak.

Pada dasarnya gue sangat mencintai pekerjaan gue. Pekerjaan menulis konten yang gue tekuni sejak hampir 3 tahun lalu telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan gue sekarang. Contohnya? Gue jadi tau banyak hal. Karena ketika gue menulis konten, tanpa sadar gue dipaksa untuk research, rajin baca, dan menganalisis, bahkan untuk hal yang gue nggak suka, karena memang sudah jadi tanggung jawab. Mau nggak mau harus tetap dijalani. Ya toh?

Singkatnya, kalo gue nggak kerja, gue nggak digaji. Kalo kerjaan gue berantakan, portfolio gue bakal jelek dan CV gue juga bakal terlihat tidak menarik.

Dan selama 3 tahun ini gue telah menghabiskan hidup gue di media sosial. Gue belajar bagaimana para warganet berperilaku di ranah media sosial. Gue belajar mencari perhatian mereka dengan menyajikan konten-konten informatif dan berkomunikasi dengan mereka dari balik akun brand klien.

Oke, 3 tahun. Gue tidak bermaksud dan berniat meninggalkan dunia penulisan konten. Gue hanya merasa waktu gue untuk ‘surfing‘ di media sosial sudah cukup. Gue merasa semakin gue bertambah usia, waktu gue semakin sedikit dan urusan yang harus gue prioritaskan semakin banyak dibanding harus hidup di dunia persosial-mediaan.

The Melancholy One

Maybe it’s time to have a peaceful life. No more fucking deadlines which always make me feel like zombie. Just enjoy my spare time reading my favorite books, singing songs I like, spending time with my beloved people, watching movie, and sleeping well.

Oh. I miss that life! I’m tired of making so much money. Let me take a break. Or should I leave this freelance life?

Nikah Muda? Sudah Siap?

yuntango_soal_menikah_muda

Tulisan ini sudah lama tertimbun di dalam notes smartphone yang pada akhirnya hari ini berhasil mendarat di blog.

Disclaimers: tulisan ini tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.

………………………………………………………………………………………………………….

Nikah. Topik yang menurut gue sangat sensitif. Walaupun sedang tren, di dalam pikiran gue nggak terbesit sedikit pun untuk ikut-ikutan nikah di usia muda seperti kejamnya tekanan sosial di negara kita. Bahkan ketika orang bertanya pada gue tentang target nikah di umur berapa, gue sering menjawab, “nggak punya”.

Bukan, bukan karena nggak mau menikah, cuma di dalam hidup gue masih banyak hal-hal yang gue prioritaskan terlebih dahulu. Dan hal-hal tersebut harus gue capai sebelum gue menikah. Apa aja?

Continue reading “Nikah Muda? Sudah Siap?”

Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau

Kalau boleh ditelaah lagi, di dunia ini sesungguhnya nggak ada yang salah dan benar. Semua hanya masalah persepsi dan sudut pandang. Manusia punya hak untuk membuat persepsinya masing-masing, tapi sayangnya manusia lain nggak punya kuasa untuk mengontrol setiap persepsi yang ditujukan untuk dirinya. Sebuah problematik yang udah jadi hukum alam.

Di dunia nyata, persepsi kita terhadap hal-hal yang kita lihat kadang nggak sepenuhnya benar. Gimana persepsi terhadap sesuatu yang kita lihat cuma dari dunia maya?

Continue reading “Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau”

Tentang Yunita dan Lari

Sejak memutuskan untuk mengubah lifestyle gue setahun terakhir ini, olahraga jadi salah satu hal yang selalu gue butuhkan di samping nutrisi. Karena baru hijrah, olahraga yang gue tekuni selama 6 bulan pertama cuma lari. Frekuensinya juga masih 3 kali per minggu, paling sering 5 kali per minggu kalo lagi rajin. Waktunya juga random. Kalo pagi gue biasa lari di pelataran kampus deket rumah gue yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki atau naik sepeda. Lain kalo lari sore, gue biasa lari di taman terbuka yang lokasinya musti dijangkau dengan kendaraan umum atau ojol. Ya intinya olahraga yang gue tekuni ini affordable banget karena gratis tis tis.

Kenapa suka lari?

Selain gratis, lari jadi salah satu ajang gue untuk merenung. Nggak jarang juga gue jadikan sebagai pemantik ide dan tempat pelarian kalo lagi sedih.

Terus lari ada efeknya nggak buat diri gue?

Continue reading “Tentang Yunita dan Lari”