RunForRiver 2018: Marathon Sendirian, Bengong-Bengong Berfaedah

RunForRiver 2018.

Bicara soal “sendirian” pasti nggak lepas dari stigma kasian dan nggak punya teman. Apalagi untuk orang-orang ektrovert yang mendapatkan banyak energi dari interaksi yang mereka lakukan dengan orang lain. Tapi bagi para introvert, sendirian adalah keadaan emas yang mereka nantikan. Sebab dengan memisahkan diri dari orang lain, mereka dapat mengisi ulang kembali energi mereka.

Berhubung gue ambivert yang cenderung introvert (nah gimana dah tuh), sendirian buat gue bukan merupakan sebuah momok menakutkan. Kadang kondisi sendirian itu gue butuhkan untuk mengenali diri sendiri, yang pada akhirnya akan membuat gue bisa mencintai diri sendiri.

Gimana gimana?

Continue reading “RunForRiver 2018: Marathon Sendirian, Bengong-Bengong Berfaedah”

#CatatanSiGembelPeron: Tentang Kereta dan Gerbong Wanita

yuntango_trainveler_catatan-tentang-kereta

Alih-alih sebagai hak istimewa, pengadaan kereta khusus wanita lebih tepat disebut sebagai pengadaan medan perang tanpa darah. Kenapa? Sebab gue tak menemukan esensi dari istimewa itu sendiri. Memang lebih aman karena terhindar dari pelecehan seksual yang biasa terjadi di gerbong campuran, tapi pada kenyataannya gerbong ini malah membuat para wanita tidak aman berada dengan sesama wanita. Karena apa? Karena yang gue temukan di dalamnya adalah pertempuran adu kekuatan yang menghadiahi pemenangnya dengan satu-dua jengkal lantai kereta untuk berdiri.

Terdengar kejam? Menurut gue tidak. Ini adalah realita dan kereta sekali lagi membuat gue menjadi pribadi yang realistis.

Continue reading “#CatatanSiGembelPeron: Tentang Kereta dan Gerbong Wanita”

Sedawai Rindu untuk Biru

Biru
Kau biru yang bersembunyi di balik abu-abu

Wajahmu berselimut ragu
Kau kelabu

Rasa untukku telah mati
Tapi kenapa aku baru menyadari setelah kau beranjak pergi?

Aku lelah berpura-pura tak peduli
Dan tak ada gunanya mengharapkan kau kembali

Dan mentari baru bahkan memilih untuk membisu
Karena tak mampu membuat kau kembali biru

Jakarta, Januari 2013

Hal yang Disukai dan Dikagumi Terlalu Mainstream, Ini 4 Hal yang Dibenci dari Jepang

Jepang, Jepang dan Jepang. Kalau ngomong soal negara asalnya Naruto ini, pasti kebanyakan orang akan melontarkan rasa kagum dengan berbagai hal yang mereka sukai dari Jepang. Nggak bisa dipungkiri, negara ini emang punya segudang hal-hal yang membuat mereka pantas dicintai.

Banyak. Banget. Bahkan saking banyaknya mungkin kalian akan bosan. Alasannya itu lagi, itu lagi.

Karena hidup harus seimbang sama seperti yin dan yang, maka dari itu di artikel ini gue nggak akan bahas hal yang gue sukai dari Jepang, melainkan hal-hal yang dibenci dari Jepang. Beberapa hal yang akan gue beberkan berdasarkan subjektivitas, beberapa lagi kerena memang culture gap. Ya pokoknya gitu deh.

Continue reading “Hal yang Disukai dan Dikagumi Terlalu Mainstream, Ini 4 Hal yang Dibenci dari Jepang”

Alegori Analogi – Arah

Simbah, legam, dan lebam. Tak ada yang ia salahkan, baik langit siang yang terlalu cerah maupun malam yang terlalu kelam. Karena memang sudah seharusnya ia mampu memahami sinar matahari yang merah dan gugusan bintang yang temaram.

Jika ingin sampai di tujuan tanpa harus karam.

Jakarta, September 2018

Alegori Analogi – Terbang

Dengan sayap tertatih, ia mampu melayangkan pandangannya yang sudah tak lagi terbatasi jeruji. Sebab kini kepalanya tak hanya sekadar bisa menengadah, meskipun terkadang dirinya terbawa angin dan kehilangan arah.

Mengesankan, pun berlimpah tekanan. Kemudian segenap hati dan seluruh nadi menyakini layaknya syuhada.

Ya, udara kebebasan ini memang terasa begitu berbeda.

Jakarta, Agustus 2018

A Touching Message in Commuter Line

yuntango_commuter_line

I have written this article in Jakarta by Train website 2 years ago.

As we have known, commuter line’s rolling stocks are mostly composed by used Japanese trains. The latest rolling stocks were come from Japanese Railway (JR), specifically which operated in Nambu Line. The new armada has yellow stripes and consists with 12 rolling stocks.

Besides the better condition from the old one, the new armada of commuter line has an interesting thing on it. Something that can open your eyes. If you are lucky to get on this train, you will see a lot of pictures from Japanese Children which decorated wall of the train. Every picture is randomly colored and consisted with a touching message from Japanese children. Some texts are in Japanese and the headline is in Bahasa.

The texts mean:

From Japanese Children for you.

“Even in oversea, you have to keep the spirit.”

A touching message is actually for the train. And it’s really touching. By reading this message, we get the fact that they really love their train. They are taught to love what they have since they were kids. Absolutely, they want us to love the train like they do.

Now, let’s love what we have this day. Do not do vandalism anymore.

If the Japanese children can, how come we can’t?