Sepedaan Lagi!

Hari Minggu di pekan ketiga bulan Desember, pedal sepeda gue jadi saksi betapa keras perjuangan seluruh bagian kaki gue; dari paha hingga ujung jemari. Dan pada hari itu juga, perut gue mendapat bagian sedap sebab dua kali terserang keram yang membuat gue meringis tertahan.

37 km adalah jarak yang berhasil gue tempuh dengan rute Universitas Pancasila-Sudirman PP, tempat berlangsungnya Car Free Day. Gue menebusnya dalam waktu 4 jam; dari matahari masih mengintip di ufuk timur hingga ia hampir tegak lurus di atas ubun-ubun.

Gosong. Sinar matahari yang menyembur berhasil menghitamkan wajah gue yang lupa diolesi tabir surya. Kalau boleh jujur, itu semua karena kaos kaki. Ya, barang kecil biang keladinya. Sepintas terlihat tak punya manfaat besar, tapi ia selalu sukses mengambil suasana hati gue setiap pagi. Sungguh, Tuhan memang menganugerahkan bakat bersembunyi, sebab gue selalu menyerah ketika berusaha mencarinya.

Si kaos kaki juga berhasil membuat gue melupakan helm. Alhasil, gue bersepeda melewati jalur protokol tanpa pelindung kepala dan sukses membuat gue was-was.

Jika gue boleh mengikrarkan, hari ini akan gue angkat jadi hari paling produktif mengeluh dalam hidup gue. Sebab, tiap jamnya gue selalu mengembuskan napas panjang dan mengakhirinya dengan keluhan yang bahkan membuat telinga sendiri risih mendengarnya. Dibalap pesepeda lain, mengeluh. Ada tanjakan, mengeluh. Keram perut, mengeluh. Keram paha, mengeluh. Lewat jalanan berdebu, mengeluh. Pokoknya hari ini gue jadi ibu-ibu pengajian deh.

Sejujurnya ini lebih kejam daripada jogging 30 menit tanpa berhenti ataupun istirahat minum. Tak hanya membakar lemak lebih banyak, tetapi juga nyali gue yang dibuat ciut karena rasa keram di paha yang sangat menyakitkan. Pengalaman sepedaan kali ini juga bukan yang pertama buat gue. Gue pernah sepedaan juga ke Sudirman waktu gue masih kelas tiga SMP. Tapi kenapa terasa jauh lebih lelah ya? Mungkin ada beberapa faktor yang memengaruhi kelelahan hari ini. Boleh jadi karena otot-otot kaki gue belum terbiasa bersepeda lagi. Boleh jadi karena setelan sepeda gue yang salah. Boleh jadi karena memang gue yang payah sih. Ah, harusnya gue sadar. Sekuat apa pun gue berpura-pura, pada kodratnya gue memang lemah. Ya, wanita akan selalu lebih lemah daripada laki-laki, bukan?

Oiya, gue juga mau berterima kasih pada Alfi, yang sudah mau mengawal nenek kecil yang nekad ini. Yang sudah mau repot-repot bunyikan bel sepedanya buat gue kalau ada kendaraan lain yang mendekat. Maaf juga ya, nenek ini terlalu sering minta istirahat untuk minum dan meredamkan rasa kram. Terlebih saat perjalan pulang, Ternyata, selain patah hati, lelah juga bisa mengikis jati diri gue.

Omong-omong kalo ditanya kapok atau enggak sepedaan ke Sudirman, untuk saat ini gue setengah kapok sihEh, tapi bukan berarti gue nggak akan sepedaan ke sana lagi ya. Gue mau kok, tapi mungkin nggak dalam waktu dekat ini. Sebab dari pengalaman hari ini gue jadi tahu batasan diri sendiri sampai mana. Gue juga jadi tahu gue masih harus berlatih lagi. Biar apa? biar nanti nggak diserang keram paha dan perut yang menjadi-jadi.

Pokoknya, pertama dan utama, gue mau terima kasih sama paha dan perut gue. Kalian emang dabest! Kalian mau gue traktir apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s