Bersua Penulis Favorit

yuntango-eka-kurniawan02

Akhir tahun 2016 menjadi momen paling tak ingin gue ulang. Banyak hal buruk yang membuat gue hampir putus asa. Akhir tahun membawa gue pada titik jenuh tertinggi gue terhadap pekerjaan. Ia juga berhasil menenggelamkan semangat hidup gue. Namun, puji syukur semua sudah terlewati. Dunia memang berputar. Tak selamanya badai berdiam di suatu samudra. Tak selamanya tupai pandai melompat. Dan tak selamanya orang beruntung selalu dihampiri keberuntungan, begitu pun sebaliknya.

Awal tahun ini cukup baik buat gue. Beberapa kabar baik menghampiri. Beberapa wishlisttercapai. Beberapa rencana berjalan dengan lancar. Sungguh, tahun ini dimulai dengan hal-hal baik. Semoga seterusnya ia akan selalu mengantarkan gue pada hal-hal baik. Aamiin.

Salah satu hal baik yang membuat semangat gue membumbung lagi adalah pertemuan dengan orang yang gue kagumi. Ia adalah seorang novelis, cerpenis, dan sastrawan, Eka Kurniawan. Jujur saja, perkenalan gue dengan karyanya merupakan suatu ketidaksengajaan yang berujung pada suatu kekaguman.

Buku beliau yang gue baca pertama kali adalah Lelaki Harimau. Saat itu faktor yang mendorong gue untuk mengeliminasi Lelaki Harimau dari rak di salah satu toko buku adalah rekomendasi dari seorang jurnalis termahsyur yang gue tonton di sebuah video di Youtube.

Dalam menyelesaikan buku tersebut, gue membutuhkan waktu tujuh hari. Setelah menyelesaikan buku itu gue masih belum sadar jika buku ini adalah salah satu karya terbaiknya Mas Eka, sebab gue sudah lama tidak membaca buku sejak waktu yang gue sendiri tidak ingat. Pokoknya lama sekali gue tidak menyentuh buku, kecuali buku tulis dan buku tabungan. Yang gue tahu, otak gue bereaksi agak lambat dalam menangkap apa yang ditulis Mas Eka. Sampai pada akhirnya gue hanya menganggap itu sebuah buku cerita yang mengisi waktu senggang gue selama di transportasi umum. Tak lebih.

Beberapa waktu kemudian gue membeli buku Mas Eka yang berjudul ‘O’ karena direkomendasikan oleh salah satu akun favorit di Twitter. Dari situ gue langsung jatuh cinta pada karya Mas Eka dan walau tak sekaligus, gue dengan sedikit membabi buta memburu buku-buku karya Mas Eka.

koleksi-yuntango

Sampai dengan saat ini gue sudah membaca dan mengumpulkan empat novel dan dua kumcer karya Mas Eka. Dan dari karya-karya Mas Eka itu, Cantik Itu Luka adalah favorit gue. Sebagai seorang pembaca baru dan pengamat buku amatir, buat gue Mas Eka adalah seorang penulis yang extraordinary. Beliau selalu bisa membuat gue terpanah dengan gaya bahasanya yang vulgar namun jujur. Yang satire namun memang seperti itulah adanya. Beliau mengemas segala aspek kehidupan seperti sosial, romance, individualisme, politik, sejarah, bahkan surealisme menjadi sesuatu yang ‘gila’, sesuatu yang membuat pembaca terheran-heran mengapa hal-hal itu bisa menjadi kombinasi yang sangat menarik untuk dibaca, disimak dan ditelaah.

Di samping gagasan yang disampaikan dan teknik penyajian cerita yang apik, Mas Eka juga membuat karya-karyanya menarik untuk dibaca lewat penamaan karakter yang tidak biasa. Seperti Mama Kalong, Maman Gendeng, Sang Sodancho, dan Edi Idiot di Cantik Itu Luka. Entang Kosasih, O, Manikmaya, Mimi Jamilah, Betalumur di O. Margio, Kiai Jahro, Ma Soma, Mayor Sadrah di Lelaki Harimau. Ajo Kawir, Agus Klobot, Rona Merah, Iwan Angsa, Iteung, dan Si Tokek di Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Menarik, bukan? Ya, setidaknya menurut gue. Hehehehe.

Sesi-satu

Hari ini gue melihat sosok yang gue kagumi itu dalam acara yang diselenggarakan oleh Gramedia Dot Com. Berjudul Narasi Jamak dengan Eka Kurniawan, acara ini terdiri dari dua sesi: lokakarya yang hanya diikuti oleh limabelas peserta terpilih dan diskusi yang diikuti oleh peserta yang sudah membeli buku karya Mas Eka di gramedia.com. Dan puji syukur gue menjadi salah satu dari limabelas peserta terpilih yang berkesempatan mengikuti sesi pertama yaitu Workshop Membangun Karakter setelah contoh prosa yang gue kirim ke tim redaksi gramedia dinyatakan lolos.

Sesi satu berjalan dengan situasi yang tidak terlalu formal dan cukup santai, jauh dari apa yang gue pikirkan. Yang cenderung akan menegangkan sebab seminggu sebelum acara, para peserta disarankan untuk membaca buku Old Man and Sea karya Ernest Hemingway. Selama tiga jam, gue dan teman-teman yang lolos berkesempatan menyimak materi dari Mas Eka tentang hal-hal yang berkaitan dengan karakter dalam cerita. Di sana peserta juga dipersilakan untuk bertanya dan Mas Eka dengan ketersediannya akan menjawab.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan siang. Mas Eka, para peserta dan staf Gramedia makan siang di satu meja sambil bercengkerama dan berbincang-bincang mengenai buku Mas Eka dan asal para peserta. Di meja yang sama juga ada editor Mas Eka yaitu Mirna Yulistianti yang kehadirannya menambahkan bumbu-bumbu topik pembicaraan saat itu.

Eka-tanda-tangan

Setengah jam sebelum sesi kedua dimulai, para peserta sesi pertama menyempatkan diri untuk meminta tanda tangan di buku Mas Eka yang mereka bawa, beberapa lagi meminta foto bersama. Karena gue tidak membawa buku Mas Eka (karena berat dan perjalanan dari Lenteng Agung ke Palmerah itu lumayan jauh dan lumayan lama kalau berdiri di KRL), jadi gue hanya minta foto bersama. Dan yeay! Akhirnya gue foto bareng penulis favorit gue juga. Senang!

Sesi-dua

Sesi kedua dimulai jam setengah dua siang. Peserta yang hadir lebih banyak daripada peserta di sesi pertama, tetapi tidak genap berjumlah lima puluh orang. Peserta sesi pertama juga secara langsung mendapat kesempatan mengikuti sesi kedua. Sesi kedua ini berlangsung alot dan lebih santai sebab selain dinaratori oleh Mas Norman yang jenaka, topik yang diangkat juga lebih luas sehingga para peserta antusias bertanya tentang karya-karya Mas Eka. Sebagai apresiasi dari tim Gramedia, lima orang penanya pertama mendapatkan buku dan gue tidak termasuk ke dalam lima peserta itu, sebab dalam dua sesi gue tidak bertanya apa pun. Gue hanya menyimak dan saat itu memang tidak ada pertanyaan yang menggantung di dalam kepala gue. Toh kalau memang nanti gue ada pertanyaan, gue bisa mampir ke blognya Mas Eka. Hehehehehe.

Terima kasih Grameida.com yang sudah menyelenggarakan acara ini dan terima kasih kepada Mas Eka yang mau menyempatkan waktunya untuk berbagi ilmu!

Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan. 🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s