5 Hal yang Akan Dilakukan Jika Kembali ke Masa Lalu

Semakin bertambah umur semakin banyak pikiran. Mungkin kalimat itu cocok untuk menggambarkan kegelisahan gue saat ini. Kadang suka iri sama adik gue yang nangis hanya karena nggak bisa ngerjain tugas sekolah. Isi pikirannya masih didominasi sama urusan-urusan sekolah. Beda sama kondisi pikiran gue yang udah terkontaminasi dengan segala macam tetek bengek kehidupan macam karir, cicilan masa depan, sampai pertanyaan kapan dipertemukan dengan jodoh.

Ya, jadi orang dewasa itu berat. Seberat rasa terganggunya dihantui penyesalan-penyesalan masa lalu yang baru gue rasain di umur sekarang. Beberapa kali terlintas di kepala gue untuk mutar waktu, tapi gue sadar kalau gue harus jadi orang yang realistis dan menerima kalau kembali ke masa lalu itu nggak akan bisa terjadi.

Namanya juga penyesalan, datengnya selalu belakangan. Tapi ya gue juga nggak mau pasrah gitu aja dan ngebiarin penyesalan tetap jadi penyesalan sampai nanti gue bertambah tua. Demi menebus semua rasa bersalah di masa lalu, gue punya tekad untuk melunasi semuanya di masa sekarang dan masa depan. Dan ini dia 5 daftar penyesalan yang sekarang sedang gue cicil.

Rajin Baca Buku

Mungkin dulu pepatah “Buku adalah jendela dunia” hanya sebuah kalimat kosong bagi gue, tapi sekarang gue salah besar. Membaca buku emang seharusnya jadi kebiasaan yang harus ditanamkan sejak kecil. Tapi mungkin gue kurang beruntung karena lingkungan sekitar gue tidak ada yang mensupport bahkan menjadi pengingat. Alhasil, gue tumbuh jadi anak yang males baca buku, kecuali pas kepingin ujian atau baca timeline twitter yang bisa melipur lara gue.

Sampai akhirnya dunia digital membuka mata gue. Suatu hari ketika jam istirahat di kantor, gue bertemu dengan video Najwa Shihab di youtube yang sedang mewawancarai Pak Anies Baswedan, saat itu beliau masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Inti percakapannya lebih ke arah bagaimana perbendaharaan kata berperan penting dalam komunikasi yang lancar. Dan perbendaharaan kata tak lain bisa didapatkan dengan cara rajin baca buku.

Telak banget. Pada saat itu gue menyadari bahwa percakapan itu sangat berhubungan dengan masalah yang gue alami, yaitu suka plango-plongo pas ngobrol sama orang. Salah satu penyebab yang paling berpengaruh adalah karena gue nggak ngerti apa-apa. Dan penyebab gue nggak ngerti apa-apa tak lain dan tak bukan karena gue malas mencari tau.

Ya demi apa pun juga saat itu gue merasa kayak katak dalam tempurung. Gue hanya berkutat dengan dunia yang sempit dan menutup mata terhadap hal-hal di luar sana. Tapi dari kesadaran terhadap diri gueyang masih closed minded dan dongo ini, gue akhirnya mulai bertekad menumbuhkan motivasi untuk rajin membaca.

Workout and pick my healthy food!

Oke, untuk poin yang ini gue harus kasih underline banget karena menurut gue ini sangat krusial. Sebagai cewek yang hidup di lingkungan yang menjunjung tinggi beauty standart, gue merasa sangat tersiksa akibat gue malas berolahraga. Sebenarnya gue suka olahraga, cuma ya males. Yaudah akhirnya hasil output di umur 20an kayak bentukan gue gini, udah pendek terus gendut lagi. Fix, gue merasa seperti kue bolu bantet yang kurang emulsifier dan baking soda.

Poin ini juga bisa gue bilang ada kaitannya dengan poin pertama. Banyak baca! Educate yourself first before eating your food. Jangan sampai nyesel karena ternyata kita nggak sadar makanan yang kita makan semuanya punya kalori yang tinggi dan menyebabkan kita jadi calorie surplus setiap hari. Nah, hal ini nih cikal bakal kegemukan.

Intinya, change your lifestyle karena malas berolahraga dan makan melebihi asupan kalori harian adalah pangkal kegemukan.

Belajar Bahasa Inggris

Ini juga jadi salah satu poin krusial (Oke, kayaknya semua poin yang akan gue sebutkan selanjutnya juga akan gue klaim sebagai poin krusial). Di era globalisasi ini, kemampuan bahasa Inggris yang nggak mumpuni sungguh akan menjamin kita kalah saing. Mau di pendidikan maupun karir. Dan ya bene raja gue ngerasain ini.

Sejujurnya bahasa adalah mata pelajaran yang paling gue suka setelah kesenian di sekolah. Gue nggak sepenuhnya salah, tapi gue hanya menyesali bahwa gue kurang memaksimalkan rasa ketertarikan gue terhadap semua hal yang berbau bahasa ini. Gue menyesal banget waktu sekolah dulu nggak coba kursus bahasa Inggris supaya bisa mempelajarinya lebih dalam. Toh, manfaatnya akan gue dapat ketika menapaki masa depan.

Satu fakta yang membuat gue merasa sangat tertampar adalah ketika gue gagal mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan intenasional. Penyebabnya hanya karena gue kurang percaya diri berkomunikasi verbal menggunakan bahasa Inggris. Padahal, sang interviewernya udah suka sama portfolio gue.

Buat gue itu sedih. Banget.

Rawat Kulit

Saat menulis postingan ini usia gue sudah menginjak 23 tahun. Dua bulan sebelum hari di saat gue nulis postingan ini gue baru aja sadar kalo merawat kulit itu adalah salah satu investasi jangka panjang yang harus dilakukan sedini mungkin.

Btw mata gue terbuka akan hal ini lagi-lagi dari youtube. Dan kali ini memang terpujilah wahai beauty influencer yang sudah menyebarkan “racun” per-skincare-an. Awalnya gue merasa terlalu banyak informasi yang gue dapat tentang skincare sampai gue bingung harus mulai dari mana. Sebagai pemula, tentu aja gue khawatir. Gue nggak mau dong dapet pengalaman buruk di kesan pertama coba skincare-an.

Gue coba ngubek-ngubek Youtube lagi demi cari informasi dan review yang lebih objektif dan pada akhirnya gue bertemu dengan channel Youtube FemaleDailyNetwork. Di channel ada sebuah sesi yang bernama Skincare 101 yang mana sesi ini dibawakan oleh Kak Affi Assegaf. Gue sebagai pemula lebih melihat ini bukan hanya sebuah konten, tapi sebagai sebuah sesi perkuliahan tentang kulit yang ngebantu gue banget dalam hal memahami kesehatan kulit.

Gue tau ini udah terlambat untuk memulai. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan satu hal yang patut gue syukuri, yaitu sinkronisasi antara otak, hati dan tubuh gue masih berjalan baik walaupun umurnya udah tua. Karena nggak lama setelah gue sadar kalo skincare itu penting, gue langsung gerak cepat beli skincare untuk pemula dan mulai berkomitmen untuk merawat kulit demi masa depan kulit yang lebih baik. Nggak perlu mempertimbangkan banyak hal sampai harus menyita waktu dan pada akhirnya malah nggak jadi mulai. Hm, tapi apa emang dasarnya gue tipikal orang yang cepat memutuskan sesuatu ya? Bisa jadi sih.

Ya intinya gitu.

Belajar Bela Diri

Sebagai orang yang suka berpergian sendiri, keterampilan bela diri adalah salah satu modal yang harus gue miliki untuk pertahanan diri ketika bahaya mengancam. Apalagi gue termasuk orang yang sungkan minta bantuan orang lain. Alasannya sederhana sih, takut merepotkan.

Selain itu, gue juga mau mematahkan stigma mengenai orang kecil itu lemah. Ketika gue sadar apa kelemahan gue, di situlah gue harus mengubah itu menjadi kekuatan gue.

Btw, poin-poin di atas kalau diomongin doang sih kesannya gampang, ya. Tapi ya sejujurnya ada beberapa poin di atas yang belum gue cicil sama sekali, yaitu poin belajar bahasa Inggris dan belajar bela diri. Saat ini gue masih fokus mengubah gaya hidup, merawat kulit dan rajin baca. Sisanya semoga bisa gue realisasikan secepatnya.

Last but not least, yang perlu gue highlight adalah: poin-poin di atas gue lakukan sebagai bentuk cinta gue kepada diri sendiri.

Kalau kalian bisa balik ke masa lalu, apa yang akan kalian lakukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s