Tentang Yunita dan Lari

Sejak memutuskan untuk mengubah lifestyle gue setahun terakhir ini, olahraga jadi salah satu hal yang selalu gue butuhkan di samping nutrisi. Karena baru hijrah, olahraga yang gue tekuni selama 6 bulan pertama cuma lari. Frekuensinya juga masih 3 kali per minggu, paling sering 5 kali per minggu kalo lagi rajin. Waktunya juga random. Kalo pagi gue biasa lari di pelataran kampus deket rumah gue yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki atau naik sepeda. Lain kalo lari sore, gue biasa lari di taman terbuka yang lokasinya musti dijangkau dengan kendaraan umum atau ojol. Ya intinya olahraga yang gue tekuni ini affordable banget karena gratis tis tis.

Kenapa suka lari?

Selain gratis, lari jadi salah satu ajang gue untuk merenung. Nggak jarang juga gue jadikan sebagai pemantik ide dan tempat pelarian kalo lagi sedih.

Terus lari ada efeknya nggak buat diri gue?

Tentu ada dong. Dari sisi fisik dan psikis.

Kalo dari psikis, seperti yang gue paparkan di atas, gue lari buat melepaskan kesedihan gue. Jadi sehabis lari biasanya gue langsung lega, walaupun nggak langsung semua rasa sedihnya hilang, tapi seenggaknya gue punya waktu itu merenungkan hal yang gue sedihkan dan coba cari jalan keluarnya.

Sedangkan kalo dari sisi fisik, selain gue lebih sehat + dapet bonus berat badan turun, gue merasa stamina gue jadi lebih kuat. Kenapa? Karena sebisa mungkin setiap latihan gue selalu ngepush diri gue untuk doing better than the previous ones. Misalnya, kemarin lari sejauh 3 km nonstop, berarti hari ini gue harus lari 4 km nonstop. Atau kalo bukan dari jarak tempuh, gue ambil tolok ukur dari dari kecepatan rata-rata atau pace-nya. Misalnya kemarin berhasil menyelesaikan 3 km dengan pace 8 menit/km, berarti hari ini atau besok kecepatan rata-rata gue harus 7 menit/km. Dan begitu seterusnya.

Must be underlined, pasang target setiap periode latihan.

Gimana bisa tau kalo performance latihan gue semakin baik?

Nah. Karena gue bukan titisan Einstein, Bill Gates, Nikola Tesla atau orang genius lainnya, jadi gue nggak bisa hitung jarak tempuh dari jumlah langkah gue atau hitung kecepatan lari gue dari hembusan angin yang gue rasakan. Maka dari itu gue memutuskan untuk menyerahkan tugas ini kepada aplikasi.

Awalnya gue pakai Samsung Health karena udah attached sama hape gue yang kebetulan Samsung. Terus coba-coba pakai Mi Fit yang terintegrasi sama Mi Band yang gue pakai. Tapi pada akhirnya melabuhkan latihan gue pada NIKE+ karena menurut gue aplikasi ini sangat menjawab semua yang gue butuhkan.

Kalau dari dua aplikasi yang gue pakai sebelumnya, jarak yang direkam oleh Nike+ menurut gue paling akurat. Soalnya kalau di Samsung Health, jaraknya seakan lebih jauh dari yang sebenarnya dan kalo pakai Mi Fit malah sebaliknya. Sedangkan jarak yang direkam Nike+ ini angkanya ada di tengah-tengah keduanya. Jadi biar lebih aman, gue memutuskan pakai Nike+.

Selain itu, user selalu dikasih apresiasi. Misalnya berhasil lari dengan jarak terjauh selama latihan, maka akan dapat notif dan semacam lencana gitu. Ada level-level tertentu juga kalo menempuh berapa km. Misalnya selama latihan sudah menempuh 50 km (akumulasi), maka peringkat gue ada di level kuning, dan seterusnya.

Pencapaian terbaik apa yang pernah diraih?

Marathon 10k nonstop!

Walaupun bukan di ajang resmi marathon, tapi setidaknya gue berhasil melampaui kapasitas diri gue. Sebelumnya gue juga pernah ikut marathon resmi yang diadakan oleh MILO bareng Nalini (akan gue ceritain di postingan selanjutnya).

Pernah cedera karena lari?

Cedera sih sampai saat ini belum ya. Ya semoga aja nggak terjadi di kemudian hari karena gue akan sangat sedih. Serius. Karena kaki gue, walaupun gede gini, adalah asset berharga gue untuk beraktivitas.

Pernah suatu ketika gue lari sore di kantor, ketika baru menempuh jarak kurang lebih 3 km, bahu gue diserang rasa pegal yang brutal. Gue juga nggak ngerti apa hubungannya bahu pegal sama lari, toh yang lebih banyak effortnya adalah kaki. Seketika gue langsung kepikiran Kapten Tsubasa yang seorang pemain bola, kerjaannya lari juga, tapi cederanya di bahu.

Dan sampai saat ini gue masih tau apa hubungannya. Yaudah, jadikan ini PR. Selanjutnya harus cari tahu dari sumber yang terpercaya supaya ke depannya nggak keulang lagi.

Ada pelajaran yang gue dapat dari run-journey gue yang hampir satu tahun ini…

Ada cerita lain yang bikin obsesi gue terhadap lari mulai berkurang. Jadi ceritanya akhir tahun lalu gue berencana menaikkan level lari gue di aplikasi Nike+. Karena sebentar lagi tahun baru dan gue emang tipikal anak yang nggak sabaran, terbentuklah sebuah action plan kalau gue harus lari 7km/hari. Demi mencapai jarak tempuh 250 km.

Hari pertama sampai hari ketiga berjalan sesuai rencana. Gue belum melihat ada tanda-tanda kelelahan di tubuh gue. Sampai akhirnya hari ke-4 sampai ke-7, pace gue perlahan menurun. Dan setelah itu gue merakan lelah yang luar biasa. Parahnya lagi, rasa lelah itu malah mengubah gue jadi overeating yang mana membuat berat badan gue naik karena napsu makan meningkat drastis.

Dari situ gue menyadari kalo gue overtrained. Karena sebelumnya gue nggak pernah nonstop seminggu harus menempuh 7 km/hari, jadi tubuh gue super kelelahan. Dan setelah gue cari tau, kardio berlebih ternyata emang nggak baik, bisa mengubah kita jadi overeating. Dan bahayanya lagi buat yang program penurunan berat badan. Buat yang nanya kenapa sekarang gue nggak lari segiat dulu, poin ini adalah jawabannya.

Intinya, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Dan dengan adanya pelajaran ini, nggak lantas bikin gue ninggalin lari. I still do love running!

With love,

Yunita/Yuntango/Nia

2 thoughts on “Tentang Yunita dan Lari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s