Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau

Kalau boleh ditelaah lagi, di dunia ini sesungguhnya nggak ada yang salah dan benar. Semua hanya masalah persepsi dan sudut pandang. Manusia punya hak untuk membuat persepsinya masing-masing, tapi sayangnya manusia lain nggak punya kuasa untuk mengontrol setiap persepsi yang ditujukan untuk dirinya. Sebuah problematik yang udah jadi hukum alam.

Di dunia nyata, persepsi kita terhadap hal-hal yang kita lihat kadang nggak sepenuhnya benar. Gimana persepsi terhadap sesuatu yang kita lihat cuma dari dunia maya?

Kalo kalian liat gue di social media suka makan sayur dan buah, percayalah itu bukan berarti hidup gue 100% sehat. Ada kalanya gue makan makanan orang Indonesia pada umumnya, kayak gorengan, junk food, ice cream, masakan padang, dan janji-janji palsu.

Kalo kalian liat gue olahraga terus, bukan berarti gue lagi ngurusin badan. Guys, coba buka mata. Manfaat olahraga tuh nggak sesempit untuk ngurusin badan. Olahraga tuh nggak cuma untuk mereka yang lagi diet. Gue olahraga dan makan makanan sehat literally karena gue sayang badan gue, walaupun bantet gini dan suka diledekin, “Ni, jalan tuh diri. Jangan jongkok.” Simply gue olahraga rutin karena nggak mau gampang sakit, soalnya kerjaan gue banyak dan kudu gesit. Emang kalo gue sakit, siapa yang bayarin biaya berobat gue kalo bukan gue sendiri?

Atau kasus lain.

Kalo kalian sering ngeliat postingan jalan-jalan di social media gue, bukan berarti hidup gue enak terus lyk nggak ada beban dan asik kayak di pantai. Simply itu karena gue lagi memberikan reward untuk diri gue atas kerja keras yang udah gue lakukan sebelumnya.

Fyi, jadi seorang pekerja kantoran dan seorang freelancer sekaligus itu nggak gampang. Apalagi kerjaan freelance gue termasuk kerjaan yang realtime. Kudu stand by setiap saat. Projek-projek yang gue pegang hampir semua di social media, yang sebagian orang beranggapan bahwa jadi social media officer/specialist/executive kerjanya cuma update status. Gue nggak akan menjelaskan scope of work orang-orang yang kerjaannya di ranah social media di sini. Yang jelas kalau kalian tau SOWnya, kalian pasti akan berdecak, “Ohhh ternyata selama ini di social media ada yang kayak gini toh.”

Back to multiple jobs.

Jadi anak kantoran dan freelancer dituntut harus pinter-pinter bagi waktu. Kenapa? Ya supaya semua kerjaan bisa kepegang dan selesai. Muter otak pas akhir bulan, nggak ada uang untuk beli kuota tapi kudu cari koneksi internet, akhirnya nebeng wifi di cafe/coffe shop cuma modal beli teh tawar, atau curi-curi waktu di kantor buat ngerjain kerjaan freelance adalah pengalaman yang relate sama keseharian gue.

Ya apalagi gue juga kerja di ahensi yang kalau lagi hectic-hecticnya, rasanya mau napas aja suka lupa. Kalo kerjaan kantor dan freelance lagi sama-sama hectic, udah deh, jangan dibayangin. Stresnya dobel sampe bikin lipetan di perut gue ikutan dobel. Karena stres, istirahat kurang, napsu makan meningkat, dan akhirnya terbitlah kalimat, “Gendutan lu, Ni.”

Itu baru sepercik cerita duka di balik multiple jobs gue. Ada lagi yang lebih mengiris hati. Hati Tanoesudibjo.

Yang namanya freelance, semua tanggalan nggak ada yang warnanya merah. Weekend dan hari libur itu hanya mitos belaka. Kadang ahensi life juga gitu sih. Cuma masih ada toleransinya. Dikit.

Ya intinya, gue harus merelakan hari libur gue untuk kerja. Nggak terkecuali waktu liburan dan hang out gue pun sering terdistraksi sama kerjaan freelance.

Percaya nggak percaya. Thug lifenya freelance memaksa gue ngerasain beberapa pengalaman gokil ini:

1. Pernah mabok di kereta ekonomi yang bangkunya tegak kayak pemimpin upacara pas perjalanan ke kampung bokap. Ini gara-gara kelamaan nunduk liat laptop untuk ngerevisi kerjaan. Sungguh niqmat.

2. Ngerevisi kerjaan dalam bentuk file excel dari hape, karena gue nggak bawa laptop. Kejadiannya di dalam kereta waktu gue lagi di Jepang. Malem-malem dan kedinginan. :))

3. Sembari nunggu kereta pagi, nginep di Stasiun Gambir sambil nuntasin kerjaan konten yang lagi ada campaign. Untung ada cfc yang buka 24 jam dan punya charger corner.

4. Buka laptop buat revisian yang lagi ditungguin client di bioskop. Untung filmnya udah selesai.

Tapi dari contoh pengalaman pahit yang gue sebutin di atas, yang paling menyedihkan adalah ketika fee lu telat dibayar. It’s like… besok gue ongkos pake apaaa.

Gitu.

Jadi, smart people. Pada intinya social media bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai hidup orang lain. Nggak semua yang ditunjukkan orang lain di social medianya mencerminkan seluruh hidupnya.

Sebelum memvonis sesuatu, coba liat sesuatu itu dari segala sisi. Kalau liat hidup orang lain enak, percayalah untuk mencapai titik enak itu, orang tersebut pasti udah melalui masa-masa sulitnya. Nggak usah ngiri, apalagi nyinyir. Karena pada hakikatnya, rumput tetangga emang selalu terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri. Daripada ngiriin hidup orang, mending bersyukur dan jalani hidup masing-masing. Dijamin lebih plong. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s