Sebuah Monolog Tengah Malam

Sebuah monolog tengah malam, judul yang terkesan klasik, ya? Padahal, ini hanya sebuah tulisan uneg-uneg anak perempuan yang lagi galau sama passion dan kerjaannya.

Monolog tengah malam ini tercipta akibat rasa lelah gue terhadap dunia permedia-sosialan. Saking lelahnya, dari lubuk hati gue yang paling dalam timbul keinginan untuk hiatus dari sana, dengan cara nggak main instagram dan facebookanya. Namun, gue tetep kepingin main Twitter. Kenapa cuma twitter? Karena Twitter adalah pelipur laraku.

Kemudian gue mikir, gimana bisa hiatus dari dunia permedia-sosialan kalau pekerjaan gue aja masih ada di sana? Pekerjaan full time maupun freelance.

Terus gue pusing. Gue balik lagi ke beberapa waktu lalu ketika gue berada di fase bosan sama pekerjaan gue. Demi menjaga semangat, pada saat itu gue memutuskan untuk menyemangati diri gue sendiri dengan memahat sebuah kutipan, baik di meja kerja gue di kantor maulun di dalam kepala gue. Begini bunyinya.

“If you’re not able to do what you love. Then let’s start to love what you do.”

Oke. Sekejap case closed.

Tapi selang beberapa saat setelah seperempat jiwa gue masih mengiyakan kutipan tersebut, sisa jiwa gue yang lain malah sebaliknya. Gue merasa mindset gue yang sekarang udah beda. Fase yang gue hadapin sekarang seperti sudah masuk fase denial sama kutipan itu. Alih-alih mengiyakan dan mulai kembali mencintai pekerjaan gue sekarang, sebagian jiwa gue malah bertanya-tanya.

“Terus sampai kapan gue harus rela hanya bisa mencintai apa yang gue lakukan sekarang?”

“Terus kapan dong gue bisa melakukan hal yang gue suka?”

“Masa iya gue mau gini-gini aja?”

Sebelum melanjutkan ke fase selanjutnya. Mari melihat ke belakang sejenak.

Pada dasarnya gue sangat mencintai pekerjaan gue. Pekerjaan menulis konten yang gue tekuni sejak hampir 3 tahun lalu telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan gue sekarang. Contohnya? Gue jadi tau banyak hal. Kenapa? Karena ketika gue menulis konten, tanpa sadar gue dipaksa untuk research, rajin baca, dan menganalisis, bahkan untuk hal yang gue nggak suka, karena memang sudah jadi tanggung jawab, mau nggak mau harus tetap dijalani. Ya toh?

Singkatnya, kalo gue nggak kerja, gue nggak digaji. Kalo gue kerjaan gue berantakan, portfolio gue bakal jelek dan CV gue juga bakal terlihat tidak menarik.

Dan selama 3 tahun ini gue telah menghabiskan hidup gue di media sosial. Gue belajar bagaimana para warganet berperilaku di ranah media sosial. Gue belajar mencari perhatian mereka dengan menyajikan konten-konten informatif dan berkomunikasi dengan mereka dari balik akun brand klien.

Oke, 3 tahun. Gue tidak bermaksud dan berniat meninggalkan dunia penulisan konten. Gue hanya merasa waktu gue untuk ‘surfing’ di media sosial sudah cukup. Gue merasa semakin gue bertambah usia, waktu gue semakin sedikit dan urusan yang harus gue prioritaskan semakin banyak dibanding harus hidup di dunia persosial-mediaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s