Hal yang Disukai dan Dikagumi Terlalu Mainstream, Ini 4 Hal yang Dibenci dari Jepang

Jepang, Jepang dan Jepang. Kalau ngomong soal negara asalnya Naruto ini, pasti kebanyakan orang akan melontarkan rasa kagum dengan berbagai hal yang mereka sukai dari Jepang. Nggak bisa dipungkiri, negara ini emang punya segudang hal-hal yang membuat mereka pantas dicintai.

Banyak. Banget. Bahkan saking banyaknya mungkin kalian akan bosan. Alasannya itu lagi, itu lagi.

Karena hidup harus seimbang sama seperti yin dan yang, maka dari itu di artikel ini gue nggak akan bahas hal yang gue sukai dari Jepang, melainkan hal-hal yang dibenci dari Jepang. Beberapa hal yang akan gue beberkan berdasarkan subjektivitas, beberapa lagi kerena memang culture gap. Ya pokoknya gitu deh.

Disclaimer: apa yang gue tulis di sini adalah berdasarkan pengalaman pribadi selama 2 kali kunjungan. Jadi mohon maaf jika ada kekurangan informasi. Terima kasih.

Buah yang Mahal

yuntango_trainveler_buahsayur-Jepang
Sayur dan buah yang harganya selangit

Sejujurnya, sebagai seorang yang suka makan buah, gue sangat terpukul dengan fakta ini. Dan pada akhirnya fakta ini pun masuk ke dalam daftar hal yang gue benci dari Jepang.

Buat orang Indonesia yang bisa dapetin buah segampang di pinggir jalan, makan buah di Jepang tuh udah kayak sesuatu hal yang mewah.

Kenapa?

Ya coba bayangin, buah di sana harganya mehong-mehong. Buah dengan harga termurah pun cuma pisang. Itu juga termasuk mahal kalau dibandingkan dengan harga pisang dalam negeri. Harga 1 pisang yang dijual di konbini sama kayak harga 3 pisang canvedish di sini. Bahkan ketika mengunjungi pasar tradisional, gue tiba-tiba ingin mengubah cita-cita gue jadi tukang semangka lantaran liat harga semangka sebiji yang udah kayak ongkos gue naik KRL 2 bulan. Matik nggak loooo.

This slideshow requires JavaScript.

Harga semanga yang Astagfirullah dan harga stroberi yang katanya worth it dengan rasanya

Eits, tapi jangan emosi dulu, Malih. Di balik fakta ini ada alasan logis kenapa harga buah di Jepang bisa mehong-mehong kayak harga diri cewek yang lagi dikejar-kejar cowok. Ternyata oh ternyata, para petani di Jepang tuh benar-benar memperlakukan buah-buahan dengan sepenuh hati. Mulai dari bibit, perawatan hingga proses memanennya diperhatikan demi kualitas terbaik. Makanya, nggak heran kalau harganya selangit, toh kualitasnya juga mantap jiwa.

Selain itu, memberikan buah adalha salah satu ritual yang sakral untuk orang Jepang. Singkatnya, jika kalian diberikan buah, itu berarti kalian sangat dihargai dan dihormati. Jadi semakin mahal harga buahnya, semakin besarlah prestige-nya.

Etapi, gue boleh nggak sih harga semangkanya nggak segitu mahalnya? Atau manganya gitu? *tetep nawar*

Sulitnya Menemukan Tempat Sampah

yuntango_trainveler_taman-Jepang
Coba temukan tempat sampah di foto ini

Hmm. Yang ini agak ironi sih. Pasalnya kita tau Jepang itu salah satu negara terbersih di dunia. Dan ya, itu bukan mitos belaka. Bersih. Banget. Saking bersihnya, sampe ikan koi aja hidup di selokan. Kan kasian ikan cere nggak punya tempat untuk bertahan hidup di sana.

 

yuntango_trainveler_pasar-Jepang
Bahkan di pasar pun krisis tempat sampah

Negaranya bersih, tapi kok susah nemuin tempat sampah? Nah, bingung kan?

Fyi, kebanyakan tempat sampah di sana hanya tersedia di konbini (minimarket) dan sekitar vanding maching. Bahkan jika ada tempat sampah di lokasi yang bukan kedua tempat tersebut pun, adalah tempat sampah untuk botol dan kaleng yang lubangnya sempit. Hm, tempat sampah aja dibedain. Betapa terorganisirnya mereka.

Tapi tau nggak sih? Di balik fakta tersebut, ada nilai moral yang masyarakat Jepang tawarkan, lho. Jumlah tempat sampah yang terbatas di beberapa lokasi ternyata bertujuan supaya masyarakat Jepang tidak makan sambil berjalan. Karena menurut budaya mereka, hal tersebut tidaklah sopan. Sugoi nggak tuh?

yuntango_trainveler_tempat-sampah-Jepang
Menemukan tempat sampah adalah sebuah pencapaian

Jadi kalau main ke sana, siap-siap nenteng-nenteng sampah ke mana-mana, ya.

Motor yang Langka

yuntango_trainveler_sepeda-Jepang
Deretan bike sharing yang rapinya bikin gemes

Lagi-lagi sebuah ironi. Yang kita tau, Jepang adalah salah satu negera terbesar pengimport kendaraan bermotor. Namun percayalah, walaupun begitu kalian akan sangat sulit menemukan motor berkeliaran di jalan raya, kecuali layanan delivery rumah makan.

Yang menjamur pabrik motor, tapi yang banyak berkeliaran sepeda. Hm, apakah ini yang dinamakan tidak cinta negeri sendiri? Atau malah ini merupakan bentuk cinta negeri sendiri karena tidak mau membuat negara mereka tercemar polusi dari asap kendaraan bermotor?

Nggak deng. Menurut kesoktauan gue, alasan paling logis mengapa motor langka ditemukan adalah karena pajak kendaraan pribadi yang selangit. Masyarakat jadi males punya motor. Dan menurut analisis gue yang masih dipertanyakan kredibilitasnya, ini adalah salah satu strategi pemerintah sana untuk mengurangi polusi. Tapi walaupun begitu, pemerintah memaksimalkan transportasi umum dengan membuatnya senyaman dan seefisien mungkin. And it works. Kece yah.

Bayangin kalo peraturan itu berlaku di Indonesia, naik ojek online ke tempat yang jaraknya nggak ada satu kilo nggak bakal terjadi lagi. Atau ojek online kemudian berubah jadi bonceng online karena para drivernya ganti kendaraan jadi sepeda.

Hahahaha.

Krik.

Krik.

Krik.

K.

Bhay.

Gue tau ini jayus, tapi boleh nggak sih kalian ketawa sedikit aja?

Ok.

Oke. Jadi pada intinya gue benci Jepang karena mereka ciptain barang yang mereka sendiri nggak pakai.

Gitu.

Toilet Tanpa Air

Sekali ketemu yang ada airnya, secanggih ini

Yang ini adalah hal paling menyebalkan buat gue. Sebagai orang Indonesia yang terbiasa cebok pakai air, gue harus rela dong cebok hanya pakai tisu. A little bit disgusting. Akhirnya karena gue nggak betah dan di samping karena masalah kebersihan, setiap kali ke toilet gue kudu bawa botol kosong dan isi botol tersebut dengan air wastafel sebelum masuk ke bilik toilet.

Terus semua toilet di sana nggak ada yang pakai air gitu?

Ada, tapi nggak semua. Sepengalaman gue, toilet yang ada bilasan airnya itu cuma tersedia di tempat-tempat tertentu seperti tempat wisata besar dan ramai dan hotel berbintang. Beberapa guest house atau dormitory ada sih yang sudah menyediakan toilet dengan bilasan ir, tapi hanya segelintir. Sisanya pakai tisu.

Culture gap memang merepotkan, ya?

Itu dia hal-hal yang dibenci dari Jepang. Nggak terima? Sama, gue juga nggak terima sebenarnya. Tapi ya namanya hidup harus seimbang dan realistis. Di mana ada suka, di situ ada benci. Di mana ada positif, di situ ada negatif. Di mana ada kamu di hati aku, eh tapi akunya yang nggak ada di hati kamu. Yhaaaaaaaaaaa.

Sekian dan terima kasih.

2 thoughts on “Hal yang Disukai dan Dikagumi Terlalu Mainstream, Ini 4 Hal yang Dibenci dari Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s