#CatatanSiGembelPeron: Tentang Kereta dan Gerbong Wanita

yuntango_trainveler_catatan-tentang-kereta

Alih-alih sebagai hak istimewa, pengadaan kereta khusus wanita lebih tepat disebut sebagai pengadaan medan perang tanpa darah. Kenapa? Sebab gue tak menemukan esensi dari istimewa itu sendiri. Memang lebih aman karena terhindar dari pelecehan seksual yang biasa terjadi di gerbong campuran, tapi pada kenyataannya gerbong ini malah membuat para wanita tidak aman berada dengan sesama wanita. Karena apa? Karena yang gue temukan di dalamnya adalah pertempuran adu kekuatan yang menghadiahi pemenangnya dengan satu-dua jengkal lantai kereta untuk berdiri.

Terdengar kejam? Menurut gue tidak. Ini adalah realita dan kereta sekali lagi membuat gue menjadi pribadi yang realistis.

Jakarta merupakan ibukota dengan jumlah penduduk tidak sedikit, berdiri dikelilingi beberapa kota penyangga yang penduduknya pun tak sedikit. Jadi wajar bukan jika yang naik kereta tak hanya beberapa orang?

Sekali waktu gue sempat berpikir mengajukan ‘naik kereta pada jam sibuk’ sebagai cabang olahraga baru pada menteri olahraga. Mungkin bisa dipertimbangkan untuk event besar ASIAN GAMES berikutnya? Karena menurut gue, dalam kegiatan itu ada banyak latihan fisik yang menggunakan kekuatan otot tanpa sadar dilakukan secara berulang, seperti mendorong, menarik, menjaga keseimbangan, lari jarak pendek, serta mengatur pernapasan.

Latihan fisik pertama: mendorong. Bentuk latihan mendorong kerap dilakukan ketika ingin masuk ke dalam kereta yang penuh sesak. Latihan ini juga sebagai bentuk pertahanan diri dari arus penumpang yang masuk.

Latihan fisik kedua: menarik. Dilakukan saat barang bawaan terhimpit penumpang yang lain. Biasanya terjadi ketika sang penumpang ingin turun, tetapi posisinya naas: jauh dari pintu dan harus menyelip di antara penumpang lain yang berdesakkan. Percayalah, kondisi ini benar-benar tidak menguntungkan.

Latihan fisik ketiga: menjaga keseimbangan. Ada satu pepatah yang berlaku di dalam kereta; belum dikatakan penuh jika pada posisi berdiri dan tidak berpegangan kamu masih jatuh saat masinis menarik rem secara mendadak.

Jadi, selama masih jatuh saat masinis menarik rem secara mendadak, kereta belum bisa dikatakan penuh, dan itu berarti penumpang yang berdiri harus memiliki kemampuan lebih untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. Sebab jika sampai jatuh, tentu akan merepotkan penumpang di sekelilingnya. Patut diingat, efek domino sangat berpengaruh di dalam kereta.

Latihan fisik keempat: lari jarak pendek. Sungguh, gue menggunakan kesempatan ketika transit untuk melakukan latihan ini sebagai pelampiasan olahraga yang tertunda.

Latihan fisik kelima: mengatur pernapasan. Walaupun AC di dalam kereta berfungsi dengan baik, kamu tak akan merasa sejuk jika kereta dalam keadaan penuh sesak. Bahkan, kondisi itu bisa saja membuat kamu sulit bernapas jika kamu tak pandai-pandai mendongakkan kepala ke atas sesekali untuk menghirup udara yang setidaknya lebih segar, walaupun pada kenyataannya tidak. Yang paling naas, tentu saja penumpang dengan tinggi badan tidak semampai seperti gue.

BACA JUGA: PENGALAMAN MENGESANKAN NAIK KERETA (ATAU MENGENASKAN?)

Pada awal masa pengakraban diri dengan kereta, kenyataan-kenyataan di atas membuat gue tak berhenti bergidik dan mengeluh. Namun seiring berjalannya waktu, gue pun sadar kalau itu semua adalah fase yang memaksa gue berubah menjadi pribadi yang lebih baik: tidak lagi manja dan mudah bersyukur.

Tidak lagi manja jika menghadapi kondisi terburuk, seperti pulang sendiri atau harus berlari mengejar bis. Tidak mudah mengeluh jika tak mendapat tempat duduk di kereta walau harus menempuh perjalanan satu jam dengan berdiri.

Terakhir, mudah bersyukur sekalipun terhadap hal-hal sederhana, seperti menghargai waktu dengan memilih bersusah-payah dahulu demi sampai tempat tujuan lebih cepat tanpa terjebak macet.

Sebab tenaga yang dikerahkan untuk berdesakkan di dalam kereta bisa pulih, tetapi waktu yang dikorbankan ketika memilih berjibaku dengan kemacetan bagaimana pun tak akan bisa kembali.

Cheers dari Gember Peron,

yuntango

One thought on “#CatatanSiGembelPeron: Tentang Kereta dan Gerbong Wanita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s