RunForRiver 2018: Marathon Sendirian, Bengong-Bengong Berfaedah

RunForRiver 2018.

Bicara soal “sendirian” pasti nggak lepas dari stigma kasian dan nggak punya teman. Apalagi untuk orang-orang ektrovert yang mendapatkan banyak energi dari interaksi yang mereka lakukan dengan orang lain. Tapi bagi para introvert, sendirian adalah keadaan emas yang mereka nantikan. Sebab dengan memisahkan diri dari orang lain, mereka dapat mengisi ulang kembali energi mereka.

Berhubung gue ambivert yang cenderung introvert (nah gimana dah tuh), sendirian buat gue bukan merupakan sebuah momok menakutkan. Kadang kondisi sendirian itu gue butuhkan untuk mengenali diri sendiri, yang pada akhirnya akan membuat gue bisa mencintai diri sendiri.

Gimana gimana?

Dalam rangka membangun kembali rutinitas gue yang sempat beku 2 pekan, minggu lalu gue ikut sebuah event marathon bertema RunForRiver 2018 yang diselenggarakan oleh Mapala Universitas Indonesia. Yup, karena acara ini diadakan oleh Mapala UI, tentu dong acara ini juga digelar di Universitas Indonesia.

Dalam event marathon RunForRiver 2018 ini, ada beberapa kategori yang dibuka yaitu 21k, 10k trail dan 5k. Masing-masing kategori pun punya sub kategori lagi yaitu master, open dan student.  Oiya, event ini juga merupakan salah satu dari kampanye tahunan yang bertujuan menyebarkan semangat beraksi untuk Sungai Ciliwung, lho.

Berhubung gue baru sembuh dari cidera, gue pun cuma berani ambil kategori 5K untuk sub kategori open. Semua demi keseimbangan jiwa dan raga ini. Gue menahan diri untuk nggak nekat kayak sebelum-sebelumnya. Karena kalau sampai kambuh lagi, bakal sedih nggak ketulunganlah gue karena harus libur lari dalam jangka waktu yang nggak sebentar. Hm, padahal di lubuk hati yang terdalam, 10K trail sangat menggoda.

BACA JUGA: TENTANG YUNITA DAN LARI

Singkat cerita, hari H gue sampai di tempat acara jam 5 subuh diantar sama bapake. Ketika gue memperhatikan sekitar, gue menemukan banyak hal menarik. Hal-hal yang selama ini luput dari perhatian gue.

Pada awalnya, gue sempet bingung mau ngapain sambil nunggu race dimulai. Peserta lain yang sudah sampai sibuk antre untuk menitipkan barang bawaan. Sedangkan gue merasa nggak harus nitipin barang bawaan karena gue cuma bawa tas pinggang gratis bagian dari race pack RunForRiver 2018 ini.

Akhirnya setelah gue perhatiin sekitar lagi, hidayah menghampiri. Yes, hidayah datang dari para peserta yang kalo dari perawakannya, udah berumur hampir setengah abad. Yang mereka lakukan adalah pemanasan seperti lari-lari kecil. Dan gue pun ngikutin. Lari-lari kecil bolak-balik dan stretching. Enggak kok, gue nggak ngerasa pe’a ngelakuin pemanasan sendiran.

Sampai akhirnya gue selesai pemanasan, tapi race belum dimulai juga. Dan kemudian gue bengong lagi, duduk di pinggir boulevard, perhatiin sekitar lagi. Nah, kali ini baru deh gue ngerasa pe’a.

Setelah tertunda hampir 1 jam, nunggu dari gelap sampe terang, akhirnya race pun dimulai. Gue beranjak dan ikut dalam antrean. Dan sama seperti peserta lain, setelah pistol selesai ditembak sebagai count down, gue pun lari. Lari melewati rute yang telah ditentukan. Menuju garis finish, bukan hati si dia.

Set set set. Nggak pake banyak cincang dan instastories, gue sampailah di finish. Dapet medali, dapet refreshment berupa air mineral, minuman sari kelapa dan pisang. Setelah itu gue melipir lagi ke pinggir. Bengong lagi. Ya emang di postingan ini gue banyak bengongnya, tapi Alhamdulillah nggak kesurupan maung.

Well, gue mau menekankan kalo gue banyak bengong di sini bukan berarti gue nggak dapet apa-apa. Karena pada dasarnya gue dapet banyak hal menarik, yang gue nggak sadar kalau gue nggak dalam kondisi sendirian.

Apa sih yang gue dapet?

Gue dapet banyak potret event marathon dari sudut pandang berbeda. Awalnya gue pikir yang ikut event marathon hanya anak-anak muda yang gemar lari. Tapi ternyata gue salah besar. Di event kemarin gue sadar bahwa gue bisa menemukan orang-orang dari berbagai kalangan, baik itu usia maupun latar belakang.

Kayak gini nih.

IMG_4860
source: dokumentasi event

Bapak yang sudah tidak keliatan muda ini masih semangat ikut event marathon. Beliau masih berusaha untuk hidup sehat dengan olahraga. Salut deh! Gemes.

Atau ini.

This slideshow requires JavaScript.

Salah satu hal yang nggak pernah gue pikirkan bisa dilakukan di event marathon di luar fun run yaitu family time. Gue terkejut dong liat bapak-bapak ikut marathon bawa stroller. Like, WOW! Gue sering liat family fun run, tapi nggak ada yang seekstrem sampai bawa stroller.

Sumpah, seketika gue ngiri! Gara-gara liat potret ini, gue jadi punya cita-cita membuat keluarga kecil gue di masa yang akan datang kayak gini. Pokoknya harus ada waktu untuk jogging bareng sekeluarga. Malah kalau bisa rutin.

*Yha, aqu tau aqu tu anaknya terlalu visioner banget*

Yang ini juga boleh.

IMG_6041
source: dokumentasi event

Sebagai ajang untuk mengejar si dia yang lebih dulu lari dengan yang lain.

Nah ini juara.

IMG_6044
source: dokumentasi event

Kayak gini dong. Geng bapak-bapak kece yang mempererat tali silaturahmi melalui event marathon. Gokil kan? Gokil dong.

Ya, walaupun ada yang ninggalin juga.

IMG_6045 (1)
source: dokumentasi event

Gapapa, Pak. Untuk jadi yang terbaik mah gas terus, ya! Mantul deh!

Terakhir, bisa juga buat ini.

IMG_7724
source: dokumentasi event

Kalo lagi nggak ada keluarga yang bisa diajakin quality time, temen yang mau lari bareng, atau doi yang udah nggak bisa dikejar, lari sendiri juga ada faedahnya. Tenang, event marathon bisa kok dijadikan ajang merenung untuk evaluasi diri. Sama kayak yang biasa gue lakuin. He he he he (menghibur diri sendiri dengan membuat justifikasi atas kesendirian yang tak berujung).

Sip. Kira-kira itulah hal-hal yang gue dapat dari marathon sendirian di RunForRiver 2018. Yang mau gue highlight adalah, sendirian itu nggak selalu buruk. Bahkan ketika sendirian, kita bisa dapat banyak hal menarik yang nggak pernah kita sadari sebelumnya. Kenapa? Karena dengan sendirian, peluang kita untuk memperhatikan sekitar akan jauh lebih banyak dibanding ketika kita ditemani orang lain. Dan otomatis dong kita jadi menyadari banyak hal yang sebelumnya luput dari perhatian kita.

Jadi, selain jangan takut gelap kata Tasya dan Om Duta, kita juga jangan takut sendirian, ya! 🙂

Cheers,

yuntango

One thought on “RunForRiver 2018: Marathon Sendirian, Bengong-Bengong Berfaedah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s