Tentang Stigma, Preferensi, dan Saling Menghargai

Kita memang hidup berdampingan dengan stigma. Dan sesungguhnya tidak ada yang salah dengan itu. Karena memang sudah menjadi hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial hidup saling berdampingan. Seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Namun, bahaya jikalau kita hidup di dalam stigma itu sendiri. Kenapa? Karena stigma bisa membatasi diri kita dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya dalam aspek sosial. Stigma bisa membatasi diri kita untuk mengeksplorasi hal baru. Stigma bisa membatasi diri kita untuk menjadi diri sendiri. Bahkan lebih parahnya lagi, stigma bisa membatasi diri kita untuk saling menghargai.

Sadar tidak sadar, kita pasti pernah menjudge orang lain berdasarkan sesuatu yang mereka suka. Sebagai contoh, kita biasa memberikan label kepada mereka yang memiliki preferensi tertentu, sebut saja pilihan musik.

Kita terbiasa memberikan label “norak” kepada orang-orang yang suka musik dangdut atau musik koplo. Kita terbiasa menempelkan cap “alay” kepada orang-orang yang suka musik KPOP. Kita terbiasa melekatkan julukan “halu” kepada mereka yang menyukai musik berkonsep grup idola seperti JKT48 atau AKB4. Bahkan kita terbiasa melekatkan label “anarkis” dan “urakan” untuk orang-orang yang menyukai musik metalika. Ya, semua itu berawal dan hanya berdasarkan preferensi belaka.

Kemudian muncul pertanyaan, emangnya kenapa sih kalau orang suka musik dangdut, koplo, KPOP, JKT48, atau metalika? Apakah ada yang salah?

Tidak.

Selama mereka tidak merusak, merugikan diri sendiri dan orang lain, nggak ada yang salah dengan pilihan mereka. Selama mereka memiliki self-control, nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh, mereka punya hak untuk memilih. Toh hidup yang mereka jalani adalah hidup mereka sendiri. Lalu, apa masalahnya?

BACA JUGA: WANITA TAK SELALU HARUS DI DAPUR

Masalahnya ada pada mindset kita yang terkekang oleh stigma. Ketika kita hidup dalam stigma, kita jadi manusia yang cepat menilai orang lain berdasarkan bias stigma yang berlaku di masyarakat. Karena sudah terbiasa menilai orang berdasarkan bias, kita jadi malas mencoba untuk mencari tahu lebih mengapa akhirnya mereka memilih preferensi yang berbeda itu. Kemudian, tanpa sadar kita menilai diri kita lebih baik daripada mereka hanya karena pilihan kita adalah pilihan yang lumrah di masyarakat. Dan pada akhirnya, kita jadi tidak bisa menghargai, kemudian berpikir stereotip, dan lebih parahnya lagi, kita mendiskriminasi.

Padahal…

Kita mungkin aja nggak tau kalau ternyata musik metal yang mereka sukai adalah hal yang menyelamatkan mereka dari depresi. Kita mungkin aja nggak tau kalau ternyata musik berkonsep grup idola seperti JKT48 atau AKB48 membantu mereka bangun dari keterpurukan. Kita mungkin aja nggak tau kalau ternyata musik dangdut dan koplo membuat mereka akhirnya bisa melahirkan karya-karya luar biasa. Bahkan, kita mungkin aja nggak tau kalau ternyata musik KPOP yang mereka suka adalah hal yang membuat mereka bisa jadi versi terbaik diri mereka. Who knows?

So, what are we judging for? Is just for making us better than them? Not necessarily.

Apa pun preferensi musik, game, klub bola, acara televisi, film, hobi, maupun makanan favorit, let’s appreciate each others. Because Bhinekka Tunggal Ika is not about slogan, but it’s also the way of living.

Dan selalu ingat…

Your choice doesn’t warrant you better than them and their choice doesn’t warrant them worse than you.

 

Cheers,

yuntango

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s