RunForRiver 2018: Marathon Sendirian, Bengong-Bengong Berfaedah

RunForRiver 2018.

Bicara soal “sendirian” pasti nggak lepas dari stigma kasian dan nggak punya teman. Apalagi untuk orang-orang ektrovert yang mendapatkan banyak energi dari interaksi yang mereka lakukan dengan orang lain. Tapi bagi para introvert, sendirian adalah keadaan emas yang mereka nantikan. Sebab dengan memisahkan diri dari orang lain, mereka dapat mengisi ulang kembali energi mereka.

Berhubung gue ambivert yang cenderung introvert (nah gimana dah tuh), sendirian buat gue bukan merupakan sebuah momok menakutkan. Kadang kondisi sendirian itu gue butuhkan untuk mengenali diri sendiri, yang pada akhirnya akan membuat gue bisa mencintai diri sendiri.

Gimana gimana?

Continue reading “RunForRiver 2018: Marathon Sendirian, Bengong-Bengong Berfaedah”

Tentang Yunita dan Lari

Sejak memutuskan untuk mengubah lifestyle gue setahun terakhir ini, olahraga jadi salah satu hal yang selalu gue butuhkan di samping nutrisi. Karena baru hijrah, olahraga yang gue tekuni selama 6 bulan pertama cuma lari. Frekuensinya juga masih 3 kali per minggu, paling sering 5 kali per minggu kalo lagi rajin. Waktunya juga random. Kalo pagi gue biasa lari di pelataran kampus deket rumah gue yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki atau naik sepeda. Lain kalo lari sore, gue biasa lari di taman terbuka yang lokasinya musti dijangkau dengan kendaraan umum atau ojol. Ya intinya olahraga yang gue tekuni ini affordable banget karena gratis tis tis.

Kenapa suka lari?

Selain gratis, lari jadi salah satu ajang gue untuk merenung. Nggak jarang juga gue jadikan sebagai pemantik ide dan tempat pelarian kalo lagi sedih.

Terus lari ada efeknya nggak buat diri gue?

Continue reading “Tentang Yunita dan Lari”

Sepedaan Lagi!

Hari Minggu di pekan ketiga bulan Desember, pedal sepeda gue jadi saksi betapa keras perjuangan seluruh bagian kaki gue; dari paha hingga ujung jemari. Dan pada hari itu juga, perut gue mendapat bagian sedap sebab dua kali terserang keram yang membuat gue meringis tertahan.

37 km adalah jarak yang berhasil gue tempuh dengan rute Universitas Pancasila-Sudirman PP, tempat berlangsungnya Car Free Day. Gue menebusnya dalam waktu 4 jam; dari matahari masih mengintip di ufuk timur hingga ia hampir tegak lurus di atas ubun-ubun.

Continue reading “Sepedaan Lagi!”