How to Survive in Japan – Bagian Pertama

Welcome

Jepang adalah salah satu negara tujuan wisata di dunia. Budaya, teknologi, kuliner, tata krama serta sistem transportasi yang baik membuat negera ini memiliki daya tarik tinggi. Namun begitu, kebanyakan orang Indonesia masih berpikiran bahwa melancong ke Jepang adalah suatu hal yang mewah. Di samping biaya hidup yang mahal dan perbedaan bahasa, mendapatkan izin untuk masuk negara ini pun relatif sulit. Padahal jika kamu tahu celah dan banyak membaca, melancong ke Jepang nggak selalu harus mewah dan menghabiskan uang banyak. Semua tergantung dari gaya hidup yang kamu jalani. Dan yang paling utama, mendapatkan izin masuk ke Jepang saat ini sudah tidak sesulit beberapa tahun lalu.

Buat low-budget traveller seperti saya, persiapan mengunjungi negara yang sudah jadi mimpi saya sejak kecil ini sangat penting. Mulai dari tetek bengek hingga hal besar seperti visa. Kalau kamu berencana melancong ke Jepang dan masih bingung harus mempersiapkan apa saja, saya harap tips di bawah ini bisa membantu. Sila dibaca.

Continue reading “How to Survive in Japan – Bagian Pertama”

Pergi ke Luar Negeri Bukan Berarti Tidak Cinta Negeri Sendiri

Ngapain jauh-jauh ke luar negeri? Indonesia juga bagus.

Saya nggak tau untuk apa sebenarnya pertanyaan itu mereka lontarkan. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa saya terka:

  1. Mereka memang nasionalis.
  2. Mereka hanya nyinyir.

Jika kemungkinan saya yang pertama itu benar, saya akan sangat bangga punya teman-teman yang mencintai negeri yang kaya akan kepingan-kepingan surga ini. Saya pun akan sangat bangga punya teman-teman yang giat mempromosikan destinasi-destinasi di Indonesia lewat media sosial mereka. Karena saya percaya bahwa mereka adalah tombak dari pariwisata Indonesia.

Namun, alangkahnya sedihnya jika kemungkinan saya yang kedua itu juga benar. Saya hanya tak habis pikir, memangnya ada yang salah dengan pergi ke luar negeri?

Continue reading “Pergi ke Luar Negeri Bukan Berarti Tidak Cinta Negeri Sendiri”

Berbahagialah

Berbahagialah kamu yang hidup dikelilingi apresiasi. Pertambahan usia, menyelesaikan pendidikan, hingga pencapaian terkecil dalam hidupmu sekali pun. Setidaknya, kamu tak perlu repot-repot mengapresiasi dirimu sendiri atas apa yang telah kamu lakukan, hanya untuk membuat kamu merasa dihargai.

Bersua Penulis Favorit

yuntango-eka-kurniawan02

Akhir tahun 2016 menjadi momen paling tak ingin gue ulang. Banyak hal buruk yang membuat gue hampir putus asa. Akhir tahun membawa gue pada titik jenuh tertinggi gue terhadap pekerjaan. Ia juga berhasil menenggelamkan semangat hidup gue. Namun, puji syukur semua sudah terlewati. Dunia memang berputar. Tak selamanya badai berdiam di suatu samudra. Tak selamanya tupai pandai melompat. Dan tak selamanya orang beruntung selalu dihampiri keberuntungan, begitu pun sebaliknya.

Awal tahun ini cukup baik buat gue. Beberapa kabar baik menghampiri. Beberapa wishlisttercapai. Beberapa rencana berjalan dengan lancar. Sungguh, tahun ini dimulai dengan hal-hal baik. Semoga seterusnya ia akan selalu mengantarkan gue pada hal-hal baik. Aamiin.

Salah satu hal baik yang membuat semangat gue membumbung lagi adalah pertemuan dengan orang yang gue kagumi. Ia adalah seorang novelis, cerpenis, dan sastrawan, Eka Kurniawan. Jujur saja, perkenalan gue dengan karyanya merupakan suatu ketidaksengajaan yang berujung pada suatu kekaguman.

Continue reading “Bersua Penulis Favorit”

1/365

Sepeda tandem

Selamat Tahun Baru 2017!

Bagaimana malam tahun baru kalian? Kalau gue sih, hanya meromok di dalam kamar sambil menyelesaikan reading challenge dari Goodreads. Maklum, belum punya bojo dan teman-teman juga sudah punya acara sendiri dengan keluarga maupun bojo masing-masing. Eh, lagian punya bojo pun nggak menjamin bakal ada agenda sih. Hahaha. Sedih ya? Tapi gue enjoy kok.

Anyway, hari pertama tahun 2017 ini gue punya agenda seru; bersepeda keliling kebun binatang.

Continue reading “1/365”

Sepedaan Lagi!

Hari Minggu di pekan ketiga bulan Desember, pedal sepeda gue jadi saksi betapa keras perjuangan seluruh bagian kaki gue; dari paha hingga ujung jemari. Dan pada hari itu juga, perut gue mendapat bagian sedap sebab dua kali terserang keram yang membuat gue meringis tertahan.

37 km adalah jarak yang berhasil gue tempuh dengan rute Universitas Pancasila-Sudirman PP, tempat berlangsungnya Car Free Day. Gue menebusnya dalam waktu 4 jam; dari matahari masih mengintip di ufuk timur hingga ia hampir tegak lurus di atas ubun-ubun.

Continue reading “Sepedaan Lagi!”