A Morning Story from Hat Yai

2015

“Makci! I want to take away!” Shindy memanggil kakak pelayan yang berdiri di depan etalase berisi barisan makanan beralaskan wadah lebar.

Pagi itu gue, Shindy, Nalini dan Arfi memutuskan untuk makan pagi di sebuah rumah makan berlabel halal di pinggir jalan Kota Hat Yai, Thailand Selatan.

Sambil menunjuk segelas teh manis hangat miliknya yang masih utuh, Shindy mengulang kalimatnya setelah kakak itu sampai di meja kami.

“Take away. I want to take this away.”

Kening kakak pelayan mengerut. Ia nampak bingung.

“Take away. I want to take this away.” sekali lagi Shindy mengulang kalimatnya.

Hening.

Kami bergeming. Saling memandang. Dan mencoba mengambil satu kesimpulan, mereka tidak bisa Bahasa Inggris.

“Take…. away….” Shindy masih berusaha mencari bahasa tubuh lain yg dapat menyampaikan pesan yg ia maksud kepada kakak pelayan.

“Nak bawa balik. Boleh?” tanya gue dengan harapan kakak itu mengerti Bahasa Melayu sedikit saja.

Hening.

Kami kembali saling memandang. Dan mencoba mengambil satu kesimpulan lagi, mereka tidak bisa Bahasa Melayu.

“Take away….”

“Nak bawa balik….”

Seketika kami berlomba-lomba menciptakan bahasa tubuh baru yang dapat mendeskripsikan arti dari, “Membawa pulang makanan”.

Dari mulai gerak tangan yg membentuk lingkaran, sampai memeragakan posisi tangan yg sedang menjinjing barang.

Kakak itu menggaruk kepalanya yang tertutup hijab. Keningnya makin berkerut. Wajahnya yang cantik seperti meraba sesuatu. Kemudian dengan hati-hati dia berkata, “Bungkus?”

“Nahhhhhhhhh. Bungkus!” kami serempak bersorak.

Oke fine. Sudah susah payah memeragakan ini-itu dan ternyata beliau tahu arti kata, “Bungkus”.

Sedikit kesal, gemas dan…… begitulah. Pada intinya, pagi itu kami mendapat pelajaran berharga.

“Do not underestimate people. Because everyone is good in their own way.”

Karena menghabiskan waktu dengan sahabat tidak hanya dengan bersenang-senang, tapi juga dengan belajar. Belajar dari hidup.

5 Hal yang Akan Dilakukan Jika Kembali ke Masa Lalu

Semakin bertambah umur semakin banyak pikiran. Mungkin kalimat itu cocok untuk menggambarkan kegelisahan gue saat ini. Kadang suka iri sama adik gue yang nangis hanya karena nggak bisa ngerjain tugas sekolah. Isi pikirannya masih didominasi sama urusan-urusan sekolah. Beda sama kondisi pikiran gue yang udah terkontaminasi dengan segala macam tetek bengek kehidupan macam karir, cicilan masa depan, sampai pertanyaan kapan dipertemukan dengan jodoh.

Ya, jadi orang dewasa itu berat. Seberat rasa terganggunya dihantui penyesalan-penyesalan masa lalu yang baru gue rasain di umur sekarang. Beberapa kali terlintas di kepala gue untuk mutar waktu, tapi gue sadar kalau gue harus jadi orang yang realistis dan menerima kalau kembali ke masa lalu itu nggak akan bisa terjadi.

Namanya juga penyesalan, datengnya selalu belakangan. Tapi ya gue juga nggak mau pasrah gitu aja dan ngebiarin penyesalan tetap jadi penyesalan sampai nanti gue bertambah tua. Demi menebus semua rasa bersalah di masa lalu, gue punya tekad untuk melunasi semuanya di masa sekarang dan masa depan. Dan ini dia 5 daftar penyesalan yang sekarang sedang gue cicil.

Continue reading “5 Hal yang Akan Dilakukan Jika Kembali ke Masa Lalu”

4 Quote yang Bisa Bantu Wujudkan Resolusi Tahun Ini

trainveler_quote_cover

Tahun baru, kesempatan baru. Tak heran memang jika momen ini selalu dijadikan titik tolak untuk melakukan berbagai hal yang lebih baik dari tahun-tahun yang lalu. Banyak orang juga menjadikannya ajang untuk berbenah diri. Berbagai resolusi bahkan sudah mulai dirancang jauh sebelum tahun baru tiba.

Namun, tak sedikit resolusi yang telah dirancang dari jauh-jauh hari malah teronggok dan tidak dilaksanakan. Kegagalan mewujudkan resolusi ini bisa dikarenakan beberapa faktor, salah satunya adalah ketidakkonsistenan yang diakibatkan dari lunturnya semangat.

Nah, supaya usaha untuk mewujudkan resolusi tahun ini tidak hangat di awalnya saja, berikut beberapa quote yang siap menyuntikkan semangat supaya kamu bisa on trackmerealisasikan resolusi kamu.

Continue reading “4 Quote yang Bisa Bantu Wujudkan Resolusi Tahun Ini”

How to Survive in Japan – Bagian Kedua

banner3.jpg

Sebelum masuk ke dalam poin-poin inti, saya ingin minta maaf karena keterlambatan postingan ini. Lebih dari tiga bulan tentu bukan waktu yang sebentar, ya. Sekali lagi maafkan saya karena baru menengok blog yang sudah dihiasi sarang laba-laba.

Well, back to the point. Setelah di artikel sebelumnya saya sudah kasih kiat-kiat persiapan apa saja yang harus dilakukan, sesuai janji dalam artikel ini saya akan membagi kiat-kiat untuk survive ketika kamu sudah sampai di Jepang. So, check this out!

Continue reading “How to Survive in Japan – Bagian Kedua”

How to Survive in Japan – Bagian Pertama

Welcome

Jepang adalah salah satu negara tujuan wisata di dunia. Budaya, teknologi, kuliner, tata krama serta sistem transportasi yang baik membuat negera ini memiliki daya tarik tinggi. Namun begitu, kebanyakan orang Indonesia masih berpikiran bahwa melancong ke Jepang adalah suatu hal yang mewah. Di samping biaya hidup yang mahal dan perbedaan bahasa, mendapatkan izin untuk masuk negara ini pun relatif sulit. Padahal jika kamu tahu celah dan banyak membaca, melancong ke Jepang nggak selalu harus mewah dan menghabiskan uang banyak. Semua tergantung dari gaya hidup yang kamu jalani. Dan yang paling utama, mendapatkan izin masuk ke Jepang saat ini sudah tidak sesulit beberapa tahun lalu.

Buat low-budget traveller seperti saya, persiapan mengunjungi negara yang sudah jadi mimpi saya sejak kecil ini sangat penting. Mulai dari tetek bengek hingga hal besar seperti visa. Kalau kamu berencana melancong ke Jepang dan masih bingung harus mempersiapkan apa saja, saya harap tips di bawah ini bisa membantu. Sila dibaca.

Continue reading “How to Survive in Japan – Bagian Pertama”

Pergi ke Luar Negeri Bukan Berarti Tidak Cinta Negeri Sendiri

Ngapain jauh-jauh ke luar negeri? Indonesia juga bagus.

Saya nggak tau untuk apa sebenarnya pertanyaan itu mereka lontarkan. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa saya terka:

  1. Mereka memang nasionalis.
  2. Mereka hanya nyinyir.

Jika kemungkinan saya yang pertama itu benar, saya akan sangat bangga punya teman-teman yang mencintai negeri yang kaya akan kepingan-kepingan surga ini. Saya pun akan sangat bangga punya teman-teman yang giat mempromosikan destinasi-destinasi di Indonesia lewat media sosial mereka. Karena saya percaya bahwa mereka adalah tombak dari pariwisata Indonesia.

Namun, alangkahnya sedihnya jika kemungkinan saya yang kedua itu juga benar. Saya hanya tak habis pikir, memangnya ada yang salah dengan pergi ke luar negeri?

Continue reading “Pergi ke Luar Negeri Bukan Berarti Tidak Cinta Negeri Sendiri”