Tentang Stigma, Preferensi, dan Saling Menghargai

Kita memang hidup berdampingan dengan stigma. Dan sesungguhnya tidak ada yang salah dengan itu. Karena memang sudah menjadi hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial hidup saling berdampingan. Seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Namun, bahaya jikalau kita hidup di dalam stigma itu sendiri. Kenapa? Karena stigma bisa membatasi diri kita dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya dalam aspek sosial. Stigma bisa membatasi diri kita untuk mengeksplorasi hal baru. Stigma bisa membatasi diri kita untuk menjadi diri sendiri. Bahkan lebih parahnya lagi, stigma bisa membatasi diri kita untuk saling menghargai.

Sadar tidak sadar, kita pasti pernah menjudge orang lain berdasarkan sesuatu yang mereka suka. Sebagai contoh, kita biasa memberikan label kepada mereka yang memiliki preferensi tertentu, sebut saja pilihan musik.

Continue reading “Tentang Stigma, Preferensi, dan Saling Menghargai”

Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau

Kalau boleh ditelaah lagi, di dunia ini sesungguhnya nggak ada yang salah dan benar. Semua hanya masalah persepsi dan sudut pandang. Manusia punya hak untuk membuat persepsinya masing-masing, tapi sayangnya manusia lain nggak punya kuasa untuk mengontrol setiap persepsi yang ditujukan untuk dirinya. Sebuah problematik yang udah jadi hukum alam.

Di dunia nyata, persepsi kita terhadap hal-hal yang kita lihat kadang nggak sepenuhnya benar. Gimana persepsi terhadap sesuatu yang kita lihat cuma dari dunia maya?

Continue reading “Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau”

Wanita Tak Selalu Harus di Dapur

“Ngapain cewek sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga di dapur.”

Pernah mendengar celetukan di atas? Atau kamu pernah menceletukkannya untuk teman wanita kamu yang sangat gigih menuntut ilmu sampai tinggi?

Kalau kamu pernah mendengarnya, apakah kamu setuju dengan pendapat itu?

Kalau saya pribadi sih, tentu
tidak setuju.

Menurut saya, bagaimanapun, sekolah dan belajar adalah kegiatan untuk membentuk pola pikir. Pola pikir itulah yang akan membantu seorang wanita mendidik anaknya kelak.

Ketika dia menjadi seorang ibu, dia sekaligus menjadi guru pertama bagi anaknya. Bagaimana bisa sang ibu mendidik anaknya dengan baik jika ia sendiri pun tak punya pola pikir yang baik?

Jadi, rasanya tak adil dan tak pantas jika kamu menghakimi seorang wanita yang berpendidikan tinggi atau setidaknya berusaha untuk mempunyai kesempatan berpendidikan tinggi dengan kalimat celetukan di atas.

Saya tak bilang bahwa wanita yang berpendidikan tinggi lebih layak menjadi seorang ibu daripada wanita yang tak mendapat kesempatan untuk berpendidikan tinggi. Tidak. Hanya saja saya ingin berpendapat bahwa bersekolah tinggi bagi wanita bukanlah hal yang sia-sia.

Percayalah, Tuhan tidak menciptakan wanita dengan kodrat bahwa ia harus selalu di dapur. Namun, Tuhan menciptakan wanita dengan kodrat bahwa ia adalah seorang ibu. Dan tentu saja, kodrat ibu tak hanya “di dapur”.

Lagipula, pendidikan itu hak bagi setiap warga negara Indonesia. Masa kamu lecehkan dengan celetukan itu?

Kamu bilang mau cari istri yang baik, masa wanita yang mau berusaha jadi istri yang baik bagi suami masa depannya kamu rendahkan dengan celetukan itu? 🙂

So, please be wise and be open minded person. Latihlah diri kamu untuk melihat sesuatu tak hanya dari satu sisi. Sebab jika kamu hanya melihat dan menilai sesuatu dari satu sisi, kamu akan kehilangan kesempatan untuk melihat sisi lainnya yang lebih menakjubkan.

Cheers,

ユニタ