Tentang Yunita dan Lari

Sejak memutuskan untuk mengubah lifestyle gue setahun terakhir ini, olahraga jadi salah satu hal yang selalu gue butuhkan di samping nutrisi. Karena baru hijrah, olahraga yang gue tekuni selama 6 bulan pertama cuma lari. Frekuensinya juga masih 3 kali per minggu, paling sering 5 kali per minggu kalo lagi rajin. Waktunya juga random. Kalo pagi gue biasa lari di pelataran kampus deket rumah gue yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki atau naik sepeda. Lain kalo lari sore, gue biasa lari di taman terbuka yang lokasinya musti dijangkau dengan kendaraan umum atau ojol. Ya intinya olahraga yang gue tekuni ini affordable banget karena gratis tis tis.

Kenapa suka lari?

Selain gratis, lari jadi salah satu ajang gue untuk merenung. Nggak jarang juga gue jadikan sebagai pemantik ide dan tempat pelarian kalo lagi sedih.

Terus lari ada efeknya nggak buat diri gue?

Continue reading “Tentang Yunita dan Lari”

1/365

Sepeda tandem

Selamat Tahun Baru 2017!

Bagaimana malam tahun baru kalian? Kalau gue sih, hanya meromok di dalam kamar sambil menyelesaikan reading challenge dari Goodreads. Maklum, belum punya bojo dan teman-teman juga sudah punya acara sendiri dengan keluarga maupun bojo masing-masing. Eh, lagian punya bojo pun nggak menjamin bakal ada agenda sih. Hahaha. Sedih ya? Tapi gue enjoy kok.

Anyway, hari pertama tahun 2017 ini gue punya agenda seru; bersepeda keliling kebun binatang.

Continue reading “1/365”

Sepedaan Lagi!

Hari Minggu di pekan ketiga bulan Desember, pedal sepeda gue jadi saksi betapa keras perjuangan seluruh bagian kaki gue; dari paha hingga ujung jemari. Dan pada hari itu juga, perut gue mendapat bagian sedap sebab dua kali terserang keram yang membuat gue meringis tertahan.

37 km adalah jarak yang berhasil gue tempuh dengan rute Universitas Pancasila-Sudirman PP, tempat berlangsungnya Car Free Day. Gue menebusnya dalam waktu 4 jam; dari matahari masih mengintip di ufuk timur hingga ia hampir tegak lurus di atas ubun-ubun.

Continue reading “Sepedaan Lagi!”